Pribadi yang berhasil adalah pribadi yang mudah disetujui.
Perhatikanlah bahwa apapun yang Anda lakukan sebagai pribadi dan pemegang peran di bisnis dan rganisasi, adalah upaya untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain. Semua pribadi yang berhasil adalah pribadi yang mudah disetujui; baik melalui kemampuan yang diwarisinya sejak kelahiran atau melalui kemampuan yang dikembangkannya melalui pemikiran dan latihan yang baik. Persuasi adalah proses untuk mempengaruhi pilihan pikiran dan sikap orang lain, yang menghasilkan perubahan pendapat yang sejalan dengan pendapat Anda. Lebih jauh, kemampuan persuasi Anda harus direntangkan kepada kemampuan untuk memastikan bahwa orang berlaku sesuai dengan persetujuan yang Anda dapatkan dari mereka. Semakin banyak orang yang menyetujui dan sependapat dengan Anda, semakin kuat posisi Anda di organisasi. Semakin banyak pelanggan yang setuju dan memutuskan membeli dari Anda, semakin baik performa Anda sebagai profesional penjual. Dan semakin besar dan luas publik yang menerima dan menyepakati gagasan-gagasan Anda, semakin cemerlang karir publik Anda di masa-masa depan yang panjang. Hampir semua keluhan dan kegagalan dalam karir dan kehidupan pribadi, disebabkan oleh rendahnya kemampuan untuk mendapatkan persetujuan. Pernahkah Anda menyaksikan kiprah pribadi-pribadi super yang demikian luwes, mahir, dan memukau dalam menyampaikan gagasan dan usulan – yang kemudian dengan mulus diterima dan dilaksanakan oleh banyak orang? Sebaliknya, Anda pasti juga pernah menyaksikan orang yang kaku, gamang, dan serba salah dalam mengutarakan maksudnya yang sebetulnya baik, dan kemudian ditolak dan bahkan mungkin dibantah tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang ditolak? Peningkatan kemampuan untuk disetujui adalah penyelesai bagi banyak masalah dalam karir profesional dan pribadi kita. bila penolakan dari orang lain adalah perendah hasil dan perasaan, maka persetujuan dari orang lain adalah peningkat hasil dan kegembiraan. Karena setiap pribadi berhak untuk berhasil dan berbahagia, maka bangunlah kemampuan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain. Segera.
BERAPAKAH NILAI RUPIAH ATAU DOLAR
DARI SETIAP PERSETUJUAN ANDA?
Keberhasilan finansial Anda tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak persetujuan yang Anda hasilkan dari orang lain, tetapi terutama dari berapa besar nilai dari setiap persetujuan itu. Bila Anda menargetkan pencapaian pendapatan bersih, misalnya Rp. 1.000.000.000,- dalam satu tahun, Anda harus lebih dahulu menetapkan jumlah orang yang harus menyetujui Anda untuk mencapai jumlah pendapatan itu. Bila Anda membutuhkan 1.000 persetujuan dalam satu tahun, maka dari setiap orang yang menyetujui Anda harus menerima uang rata-rata sebesar Rp. 1.000.000,-. Bila waktu tidak memungkinkan bagi Anda untuk mendapatkan persetujuan dari orang sebanyak itu, Anda dapat menurunkannya menjadi 100 orang saja, tetapi Anda harus meningkatkan nilai dari setiap persetujuan menjadi Rp. 10.000.000,- Atau bila Anda merasa lebih nyaman dengan nilai persetujuan yang lebih kecil, seperti Rp. 100.000,- per orang, maka Anda harus membangun persetujuan dari 10.000.000 orang. Pertanyaan awal, sebelum Anda meningkatkan kemampuan persuasi Anda dalam Super Seminar – Effective Business Persuasion ini, yang manakah yang lebih sesuai dengan tingkat kemampuan Anda sekarang; membangun persetujuan dari banyak orang dengan nilai finansial yang lebih kecil dari setiap persetujuan mereka, atau membangun nilai finansial yang besar dari jumlah orang yang sedikit saja?
Kemudian, bayangkan apa yang dapat Anda capai dengan kemampuan untuk menghasilkan persetujuan dari jumlah orang yang semakin besar dengan nilai per persetujuan yang juga semakin besar?
TIDAK ADA PEMIMPIN YANG BISA BERHASIL
TANPA KEMAMPUAN PERSUASI.
Apapun yang Anda yakini, akan sedikit berpengaruh bila orang lain tidak meyakini Anda.
Yakinilah ini, bahwa pelanggan tidak akan membeli dari Anda bila mereka tidak ‘membeli’ Anda. Dan formula ini berlaku dalam semua lini kehidupan profesional dan pribadi kita.
Organisasi yang Anda pimpin tidak akan menerima dan melaksanakan gagasan Anda bila mereka tidak menerima Anda. Sebagai pemimpin, Anda tidak akan bisa membangun dedikasi kepada visi, misi, target-target, dan budaya kerja yang Anda tetapkan, bila organisasi Anda tidak meyakini Anda. Mereka harus meyakini Anda untuk meyakini yang Anda yakini.
Semua keberhasilan profesional dan keberhasilan pribadi yang kita inginkan - bersumber dari kualitas dan kemampuan pribadi kita dalam mendapatkan persetujuan dari orang lain.
JADILAH PRIBADI YANG BERNILAI DENGAR YANG TINGGI.
Memang perubahan tidak menjamin adanya perbaikan, tetapi tidak ada perbaikan yang bisa dicapai tanpa perubahan. Hanya saja, kebanyakan orang merasa lebih khawatir dengan ancaman dari ketidak-pastian dari perubahan – daripada bersemangat menyambut kemungkinan baik yang bisa dihasilkannya.
Pada dasarnya, setiap orang menyukai kemapanan dari yang telah nyaman bagi mereka. Itu sebabnya, tidak banyak orang yang berbakat mendengarkan dengan baik, dan sebagian besar orang bahkan menolak untuk mendengarkan - karena mereka khawatir bila yang mereka dengar akan mengharuskan mereka untuk berubah.
Tetapi, akan ada saja pribadi-pribadi terlatih yang hadir dengan nilai dengar yang tinggi, yang berhasil mengundang orang untuk meninggalkan kemapanan yang merugikan mereka, untuk memperbarui hubungan penjualan dan pelayanan yang tidak menghasilkan, dan membangun perilaku organisasi yang menerobos batasan-batasan tradisionalnya.
Maka apa sajakah yang harus Anda bangun pada diri Anda untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai dengar yang tinggi?
BANGUNLAH KEMAMPUAN BERBICARA YANG PERSUASIF
Kata-kata Anda bisa melukiskan kebesaran dan keindahan yang hanya bisa dilihat oleh pikiran.
Bila Anda bisa membantu orang lain melihatnya di dalam pikiran mereka, mereka akan juga mendengar kebesaran dan keindahan itu di hati mereka. dan bila mereka mendengarnya di hati, mereka akan menjadikan hati Anda sebagai hati mereka. Mereka akan meyakini yang Anda yakini.
Lalu, kira-kira apakah keuntungan yang bisa Anda dapatkan dengannya, bila Anda seorang penjual, negosiator, atau pemimpin?
Bila pribadi Anda diyakini mewakili kepentingan orang banyak untuk yang menguntungkan mereka – maka mereka akan mudah menerima, menyukai, mempercayai, dan menghormati anjuran-anjuran Anda.
Maka kembangkanlah kemampuan untuk berpikir dengan tertata, untuk mengelola keprimaan perasaan Anda, untuk berbicara dengan kekuatan yang mengubah pendapat, dan kemampuan untuk bertindak yang menyatukan itu semua ke dalam pribadi Anda yang andal.
Jadilah pribadi yang berpengaruh.
Menguasai kemampuan untuk mengubah pendapat orang lain membutuhkan perubahan dan peningkatan strategis pada cara-cara Anda dalam berpikir, dalam mengelola perasaan, dan dalam membawakan diri Anda sendiri.
Tidak ada pribadi dan organisasi yang tidak membutuhkan kemampuan untuk memenangkan persetujuan dari sebanyak mungkin orang, dengan nilai persetujuan yang setinggi mungkin.
Maka, pastikan bukan hanya pesaing Anda yang hadir dalam super seminar yang sangat penting ini.
Sadarilah, kehidupan menjadi sangat indah bagi mereka yang menginginkan apapun yang telah dimilikinya.
Disitulah terletak sumber rasa syukur yang syahdu.
Dan dari situlah berkembang kepekaan dari pandangan, pendengaran dan perasaan Anda mengenai kehidupan dunia yang telah menyeru kepada Anda sejak kelahiran Anda.
Tidak akan tersedia cukup waktu dalam hidup ini untuk mengumpulkan semua kupu-kupu yang cantik.
Itulah sebabnya, cara terbaik untuk menikmati banyak keindahan, adalah dengan menikmati apapun keindahan yang ada pada kita, dan menyambut dengan suka cita bila keindahan baru datang bertamu.
Sahabat adalah orang yang membuat hidup kita kurang lengkap tanpa kehadirannya
Anda bisa memberi tanpa menyayangi, tapi anda tidak bisa menyayangi tanpa memberi
Keindahan itu terdapat dihal-hal yg sederhana dan orang yang dapat melihat keindahan itu, sesungguhnya telah memiliki hati yang indah
Hadiahkan diri anda bagi kebahagiaan orang lain, lalu lihat apa yang akan terjadi
Selain itu katakanlah kepada sahabat kita 3 hal berikut ini:
• Keberadaanku adalah pengindah dari waktumu.
• Kegembiraanku adalah untuk merayakan kekuatanmu.
• Umurku adalah untuk memenangkanmu.
Bila Anda tidak tahu lagi apa yang harus Anda katakan, jangan berikan tanda kepada orang lain bahwa kita tidak ada lagi yang mau dikataka
Kalau anda tidak tahu tentang apa yang mau Anda katakan, jangan mengatakan apapun yang menunjukkan bahwa Anda tidak tahu.
Jadi kalau sudah habis sesuatu yang baik yang bisa Anda katakan, jangan tunjukkan bahwa kebaikan itu sudah tidak ada lagi dengan mengatakan apapun.
Karena apapun yang Anda katakan setengah hal-hal yang baik itu habis, hanya ada satu kemungkinan yaitu hal yang tidak baik.
Bila Anda ingin mengundang perhatian orang di dunia ini, lakukanlah hal-hal biasa tetapi dengan cara-cara yang baiknya tidak biasa.
Melakukan hal-hal yang tidak biasa membuat Anda dilihat aneh, atau dilihat melakukan hal-hal yang beresiko.
Tetapi apabila kita melakukan hal-hal biasa yang udah diterima orang, yang udah dilihat orang sebagai sesuatu yang bisa diterima tetapi dengan kualitas cara yang beda maka Anda akan mengundang perhatian mereka.
Nah orang-orang yang melakukan hal-hal biasa - baiknya tidak biasa ini, akan dibayar tidak biasa - untuk melakukan hal-hal yang biasa.
Dan sebetulnya kalo kita perhatikan tidak ada dalam hidup ini yang luar biasa kecuali dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa...!!
Jangan biarkan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan menghalangi hal-hal yang bisa Anda lakukan.
Banyak orang tidak menjadi hebat karena berhasil melakukan hal-hal banyak dari semua koleksi kemampuannya karena dihentikan oleh perasaan takut, perasaan ragu, perasaan malu karena hal-hal yang tidak bisa dilakukannya
Seorang yamg mahir sekali main gitar tidak harus berhenti memainkan gitar hanya karena dia tidak bisa loncat tinggi.
Seorang yang mahir sekali berbicara tidak harus menghentikan dirinya dari berbicara menyampaikan sesuatu yang baik hanya karena dia bukan seorang penari yang baik.
Jadi utamakan yang bisa kita lakukan, dahulukan dia. Jangan biarkan hal-hal yang tidak bisa anda lakukan.
Melakukan hal-hal yang tidak biasa membuat Anda dilihat aneh, atau dilihat melakukan hal-hal yang beresiko.
Tetapi apabila kita melakukan hal-hal biasa yang udah diterima orang, yang udah dilihat orang sebagai sesuatu yang bisa diterima tetapi dengan kualitas cara yang beda maka Anda akan mengundang perhatian mereka.
Nah orang-orang yang melakukan hal-hal biasa - baiknya tidak biasa ini, akan dibayar tidak biasa - untuk melakukan hal-hal yang biasa.
Dan sebetulnya kalo kita perhatikan tidak ada dalam hidup ini yang luar biasa kecuali dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa...!!
Friday, November 13, 2009
UKHUWAH ISLAMIYAH 2
Makna Ukhuwah Islamiyah.
• Menurut Imam Hasan Al-Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Hakekat Ukhuwah Islamiyah
1. Nikmat Allah (QS. 3: 103)
2. Perumpamaan tali tasbih (QS. 43: 67)
3. Merupakan arahan Rabbani (QS. 8: 63)
4. Merupakan cermin kekuatan iman (QS. 49: 10)
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah
• Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi).
Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
Buah Ukhuwah Islamiyah
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga (15:45-48)
• Menurut Imam Hasan Al-Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Hakekat Ukhuwah Islamiyah
1. Nikmat Allah (QS. 3: 103)
2. Perumpamaan tali tasbih (QS. 43: 67)
3. Merupakan arahan Rabbani (QS. 8: 63)
4. Merupakan cermin kekuatan iman (QS. 49: 10)
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah
• Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi).
Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
Buah Ukhuwah Islamiyah
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga (15:45-48)
UKHUWAH ISLAMIYAH
“Tidaklah dua orang muslim berjumpa, lalu keduanya berjabat tangan, kecuali keduanya diampuni sebelum keduanya bepisah.” (H.R. Abu Daud)
Diriwayatkan oleh Imam Mlik dalam Al Muwatha’ dari abi Idris Al Khaulany rahimahullah bahwa ia berkata:
“Aku pernah masuk Masjid Damaskus. Tiba-tiba aku jumpai seorang pemuda yang murah senyum yang dikerumuni banyak orang. Jika Mereka berselisih tentang sesuatu maka mereka mengembalikan kepada pemuda tersebut dan meminta pendapatnya. Aku bertanya tentang dia, lalu dikatakan oleh mereka,’Ini Muadz bin Jabal.’ Keesokan harinya , pagi-pagi sekali aku dating ke masjid itu lagi dan kudapati dia telah berada di sana tengah melakukan shalat. Kutunggu ampai dia selesai melakukan shalat kemudian aku temui dan kuucapkan salam kepadanya. Aku berkata,’Demi Alloh aku mencintaimu. Lalu ia bertanya.’Apakah Alloh tidak lebih kau cintai?’ Aku jawab,’Ya Alloh aku cintai’. Lalu ia memegang ujung selendangku dan menariknya seraya berkata,’Bergembiralah karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw, berabda,”Alloh berfirman, cinta-Ku pasti akan mereka peroleh bagi orang yang saling memadu cinta karena Aku, saling mengunjungi karena Aku, dan saling memberi karena Aku.”
MAKNA UKHUWAH ISLAMIYAH
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Hakekat Ukhuwah Islamiyah:
1.Nikmat Allah (Q.S. 3:103)
2.Perumpamaan tali tasbih (Q.S.43:67)
3.Merupakan arahan Rabbani (Q.S. 8:63)
4.Merupakan cermin kekuatan iman (Q.S.49:10
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah:
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syariat Islam
Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan akidah (missal:ikatan keturunan orang tua-anak, perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi)
Peringkat-peringkat ukhuwah:
Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)
Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan.
Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)
Ta’awun adalah saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran
Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
2. Memohon didoakan bila berpisah
“Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu” (H.R. Muslim)
3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim)
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
“Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)
5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
MANFAAT UKHUWAH ISLAMIYAH
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. 15:45-48)
Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwah adalah cinta. Tingkatan cinta yang paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki, dan bersih dari sebab-sebab permusuhan
Al-Qur’an menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan yang dijatuhkan Allah atas orang0orang yang kufur terhadap risalahNya dan menyimpang dari ayat-ayatNya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Ma’idah:14
Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih tinggi dari lapang dada dan cinta, yaitu itsar. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai. Ia rela lapar demi kenyangnya orang lain. Ia rela haus demi puasnya prang lain. Ia rela berjaga demi tidurnya orang lain. Ia rela bersusah payah demi istirahatnya orang lain. Ia pun rela ditembus peluru dadanya demi selamatnya orang lain.
Islam menginginkan dengan sangat agar cinta dan persaudaraan antara sesama manusia bisa merata di semua bangsa, antara sebagian dengan sebagian yang lain. Islam tidak bisa dipecah-belah dengan perbedaan unsure, warna kulit, bahasa, iklim, dan atau batas negara, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertikai atau saling dengki, meskipun berbeda-beda dalam harta dan kedudukan.
Diriwayatkan oleh Imam Mlik dalam Al Muwatha’ dari abi Idris Al Khaulany rahimahullah bahwa ia berkata:
“Aku pernah masuk Masjid Damaskus. Tiba-tiba aku jumpai seorang pemuda yang murah senyum yang dikerumuni banyak orang. Jika Mereka berselisih tentang sesuatu maka mereka mengembalikan kepada pemuda tersebut dan meminta pendapatnya. Aku bertanya tentang dia, lalu dikatakan oleh mereka,’Ini Muadz bin Jabal.’ Keesokan harinya , pagi-pagi sekali aku dating ke masjid itu lagi dan kudapati dia telah berada di sana tengah melakukan shalat. Kutunggu ampai dia selesai melakukan shalat kemudian aku temui dan kuucapkan salam kepadanya. Aku berkata,’Demi Alloh aku mencintaimu. Lalu ia bertanya.’Apakah Alloh tidak lebih kau cintai?’ Aku jawab,’Ya Alloh aku cintai’. Lalu ia memegang ujung selendangku dan menariknya seraya berkata,’Bergembiralah karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw, berabda,”Alloh berfirman, cinta-Ku pasti akan mereka peroleh bagi orang yang saling memadu cinta karena Aku, saling mengunjungi karena Aku, dan saling memberi karena Aku.”
MAKNA UKHUWAH ISLAMIYAH
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Hakekat Ukhuwah Islamiyah:
1.Nikmat Allah (Q.S. 3:103)
2.Perumpamaan tali tasbih (Q.S.43:67)
3.Merupakan arahan Rabbani (Q.S. 8:63)
4.Merupakan cermin kekuatan iman (Q.S.49:10
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah:
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syariat Islam
Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan akidah (missal:ikatan keturunan orang tua-anak, perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi)
Peringkat-peringkat ukhuwah:
Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)
Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan.
Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)
Ta’awun adalah saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran
Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
2. Memohon didoakan bila berpisah
“Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu” (H.R. Muslim)
3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim)
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
“Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)
5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
MANFAAT UKHUWAH ISLAMIYAH
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. 15:45-48)
Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwah adalah cinta. Tingkatan cinta yang paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki, dan bersih dari sebab-sebab permusuhan
Al-Qur’an menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan yang dijatuhkan Allah atas orang0orang yang kufur terhadap risalahNya dan menyimpang dari ayat-ayatNya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Ma’idah:14
Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih tinggi dari lapang dada dan cinta, yaitu itsar. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai. Ia rela lapar demi kenyangnya orang lain. Ia rela haus demi puasnya prang lain. Ia rela berjaga demi tidurnya orang lain. Ia rela bersusah payah demi istirahatnya orang lain. Ia pun rela ditembus peluru dadanya demi selamatnya orang lain.
Islam menginginkan dengan sangat agar cinta dan persaudaraan antara sesama manusia bisa merata di semua bangsa, antara sebagian dengan sebagian yang lain. Islam tidak bisa dipecah-belah dengan perbedaan unsure, warna kulit, bahasa, iklim, dan atau batas negara, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertikai atau saling dengki, meskipun berbeda-beda dalam harta dan kedudukan.
BERAMAL DAN IBADAH PERLU DENGAN KEIKHLASAN
Allah menjadikan manusia untuk beribadah dan memperhambakan diri kepadaNya. Ini jelas dari firman Allah s.w.t. yang bermaksud "Tidak aku menjadikan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaku".
Keikhlasan beribadah seseorang kepada Allah adalah bertolak dari niat seseorang itu mengerjakan ibadah tersebut. Ini jelas sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah di dalam hadisnya yang bermaksud: "Sesungguhnya segala perbuatan yang dilakukan itu dengan niat dan sesungguhnya tiap-tiap manusia apa yang diniatkannya maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasulnya dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ia ingin memperolehinya atau kepada perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ia inginkan".
Di antara ibadah yang wajib kita lakukannya, bulan yang mulia penoh dengan keberkatan ialah dengan berpuasa di bulan Ramadhan.
Ibadat puasa perlu kepada keikhlasan sebagaimana ibadat-ibadat lain yang dikerjakan kerana keikhlasan hati dalam mengerjakan ibadah adalah menjadi syarat penerimaan ibdah itu oleh Allah s.w.t. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kamu, Dan harta kamu dan sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan amal ibadah kamu." Dengan ini jelas Allah meliaht hati manusia untuk menilai dan menentukan amal ibadat yang sebenarnya.
Sesungguhnya ikhlas itu roh atau jiwa sesuatu amalan. Sesungguhnya sesiapa yang beramal tanpa keikhlasan di dalamnya maka amalan yang ditunaikan itu tiada mempunyai roh dan tidak diterima. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: "Allah tidak menerima amalan melainkan amalan yang dikerjakan dengan tulus dan ikhlas baginya dan bertujuan mendapat keredaanNya"
Ia juga merupakan landasan yang kukuh di atas mana-mana orang yang melaksanakan bermacam-macam amal dan tugas kebaikan dan sifat keikhlasan itulah pokok segala kebahagiaan. Sesuatu kerja yang tidak keluar dari hati yang ikhlas nescaya tidak menghasilkan buah bahkan mungkin akan merugikan kepada diri sendiri. Orang yang bekerja tanpa keikhlasan dia bekerja hanya untuk lahir sahaja lupa kepada tujuan dan matlamat dia bekerja sedang tiap-tiap amal tanpa ikhlas pasti tidak menghasilkan pahala di sisi Allah.
Tegasnya sidang pendengar sekelian orang yang tidak mempunyai keikhlasan hati bererti tidak yang berdiri di tempat gelap tidak mempunyai lampu cahaya untuk meneranginya, tidak mempunyai sayap untuk terbang tinggi, dia bekerja hanya untuk dorongan hawa nafsu sahaja. Cara yang demikian menjatuhkan tuannya ke lembah kebinasaan dan kehinaan. Tuhan memerintahkan kita semua beramal dan beribadat dengan keikhlasan hati. Segala pengabdian diri terhadap Allah hendaklah dilakukan seikhlas-ikhlasnya dengan penuh kebenaran, keadilan, kebijaksanaan dan kesabaran, sepertimana firman Allah s.w.t. di dalam surah Al-A�raf
Maksudnya: "Hadapkanlah muka kamu dengan lurus, tulus dan ikhlas tiap-tiap mengerjakan sembahyang dan serulah Tuhanmu sambil mengikhlaskan diri kepadaNya"
Dalam surah yang lain Allah menerangkan maksudnya: "Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk berbakti memperhambakan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan"
Sidang Pendengar Sekelian,
Dari ayat di atas kita dapat memahami bahawa Allah memerintahkan kita semua supaya mengabdikan diri kita kepadaNya dengan tulus ikhlas dengan erti kata kita kerjakan sesuatu amalan, sesuatu kerja kerana Allah bukan sekali-kali kerana sesuatu atau seseorang yang lain lebih-lebih lagi kerana sesuatu ganjaran kebendaan.
Syeikh Al Khushairi seorang pengasas Tasauf menerangkan bahawa ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah kerana ingin memperdekatkan diri kepada Allah s.w.t. bukan kerana untuk mencari kesayangan orang atau sesuatu hal yang lain selain daripada mengtakarufkan diri kepada Allah Tuhan yang menjadikan kita.
Sifat keikhlasan hati itulah yang menjadi pedoman kepada seseorang di dalam pekerjaan atau perkhidmatan. Ianya merupakan alat yang menyampaikan cita-cita yang mulia. Orang yang bekerja dengan penuh keikhlasan hatinya tentunya tidak mudah patah atau putus harapan di tengah jalan. Tidak mudah putus asa, dia tidak akan puas hati sebelum pekerjaan yang dilaksanakannya itu berhasil sepenuhnya. Mereka di dalam bekerja teguh pendirian kuat hemah dan kemahuan, dia tidak akan tersinggung hati lantaraan celaan dan kritikan orang lain. Tidak sombong kerana menerima pujian, tidak bangga kerana dinaikkan pangkat atau mendapat harta yang banyak dan kedudukan yang baik malahan orang yang bekerja dengan ikhlas tetap terus berusaha hingga tercapai yang dicita-citakan dan tidak akan memberhentikan kerja itu walaupun akan menghadapi rintangan, halangan dan menempuh pengorbanan yang besar kerana mereka mengharapkan keredaan Allah yang tidak ada batasannya.
Dalam hubungan ini Hujjatul Islam Imam Ghazali ada berkata : "Manusia semuanya mati kecuali yang masih hidup adalah orang yang berilmu tetapi umumnya orang yang berilmu itu sedang nyenyak tertidur kecuali yang jaga adalah orang yang berilmu dan beramal. Tetapi orang yang beramal itu pula sering tergoda atau terpedaya kecuali yang tidak terpedaya hanya orang yang ikhlas tetapi ingatlah bahawa ikhlas itu berada di dalam keadaan yang amat sulit ibarat telur di hujung tanduk"
Demikian caranya Imam Ghazali memberikan gambaran yang tepat terhadap sifat yang ikhlas itu dan kita harus yakin bahawa suatu amal yang dikerjakan dengan ikhlas ujudnya akan kukuh dan mestipun amal itu terpaksa juga tumbang kerana dilanda zaman tetapi kesannya tetap abadi. Oleh kerana itu sifat ikhlas di dalam beribadah amat penting dan dia merupakan senjata yang tidak luntur bagi menghadapi gangguan yang lahir dari syaitan sebagaimana firman Allah s.w.t.
Maksudnya: "Iblis berkata wahai tuhanku oleh sebab engkau telah memutuskan aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang perbuatan baik di muka bumi ini dan pasti aku akan menyesatkan mereka kecuali hamba-hambaMu yang mengerjakan amal ibadat dengan penuh keikhlasan.
Untuk dijadikan contoh mengenai ikhlas ini marilah kita meninjau satu riwayat cerita di dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah bererti:
"Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda bahawasanya manusia yang pertama dipanggil untuk diadili di hari kiamat ialah orang yang mati syahid. Dia datang kepada Allah TuhanNya sambil dia sendiri telah mengetahui nekmat apa yang akan diterimanya. Allah bertanya kepadanya apakah amal kamu? "Jawabnya aku berperang untukmu hingga aku mati syahid". Allah berkata kepadanya "engkau bohong, engkau berperang agar manusia mengatakan engkau seorang gagah, berani dan engkau sudah dikatakan begitu sebagaimana yang engkau kehendaki. Kemudian orang itu dihela masuk ke neraka.
Adapun yang menuntut ilmu dan telah mengajar pula serta menjadi pembaca Al-Quran, orang ini dibawa ke pengadilan Tuhan di hari kiamat sedang dia sendiri telah mengetahui nikmat yang akan diterimanya. Dihadapan Tuhan ditanya apa amalmu jawabnya "aku banyak membaca Al Quran" Berfirman Allah kepadanya engkau bohong! Engkau menuntut ilmu itu agar dikatakan orang engkau seorang yang alim, engkau membaca Al-Quran itu supaya dikatakan orang seorang Qari dan yang demikian itu telah engkau dikatakan orang kemudian orang itu pun dihela masuk ke dalam neraka.
Adapun seorang lelaki yang telah mendapat kelapangan rezeki sebahagian hartanya dibahagikan kepada orang lain kemudian orang itu pun dibawa menghadap Allah untuk dibicarakan dan dia sendiri telah mengetahui nikmat yang akan diterimanya. Di hadapan Allah dia ditanya apa kerjamu dia menjawab "aku telah membelanjakan hartaku kepada jalan yang engaku redai dan itu telah aku kerjakan kerana engkau". Allah telah berfirman kepadanya engkau berbohong engkau berbuat demikian itu adalah supaya dikatakan orang engkau seorang pemurah sedangkan yang demikian itu telah dikatakan orang kemudian orang itu pun dihela masuk ke dalam api neraka. Demikianlah riwayat hadis tiga jenis orang beramal tidak ikhlas. Amalan mereka ditolak tidak diterima oleh Allah dan akibatnya mereka dicampakkan ke dalam api neraka.
Kesimpulan apa yang telah diperkatakan tadi ialah bahawa beramal dan beribadah perlu kepada keikhlasan dan kejujuran dan untuk menjadikan amalan itu agar kekal abadi sempurna lahir dan batin perlulah kita lakukan segala amalan dengan tulus dan ikhlas semata-mata kerana Allah Taala khususnya kita sedang berada di dalam bulan Ramadhan yang mulia, bulan untuk kita meningkatkan amal kebajikan kita jadi hendaklah segala amalan kebajikan yang kita lakukan di bulan ini dapat dilakukan dengan seikhlas-ikhlasnya supaya ianya benar-benar dapat diterima oleh Allah s.w.t. dan dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepadaNya.
Keikhlasan beribadah seseorang kepada Allah adalah bertolak dari niat seseorang itu mengerjakan ibadah tersebut. Ini jelas sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah di dalam hadisnya yang bermaksud: "Sesungguhnya segala perbuatan yang dilakukan itu dengan niat dan sesungguhnya tiap-tiap manusia apa yang diniatkannya maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasulnya dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ia ingin memperolehinya atau kepada perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ia inginkan".
Di antara ibadah yang wajib kita lakukannya, bulan yang mulia penoh dengan keberkatan ialah dengan berpuasa di bulan Ramadhan.
Ibadat puasa perlu kepada keikhlasan sebagaimana ibadat-ibadat lain yang dikerjakan kerana keikhlasan hati dalam mengerjakan ibadah adalah menjadi syarat penerimaan ibdah itu oleh Allah s.w.t. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kamu, Dan harta kamu dan sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan amal ibadah kamu." Dengan ini jelas Allah meliaht hati manusia untuk menilai dan menentukan amal ibadat yang sebenarnya.
Sesungguhnya ikhlas itu roh atau jiwa sesuatu amalan. Sesungguhnya sesiapa yang beramal tanpa keikhlasan di dalamnya maka amalan yang ditunaikan itu tiada mempunyai roh dan tidak diterima. Sabda Rasulullah s.a.w.
Maksudnya: "Allah tidak menerima amalan melainkan amalan yang dikerjakan dengan tulus dan ikhlas baginya dan bertujuan mendapat keredaanNya"
Ia juga merupakan landasan yang kukuh di atas mana-mana orang yang melaksanakan bermacam-macam amal dan tugas kebaikan dan sifat keikhlasan itulah pokok segala kebahagiaan. Sesuatu kerja yang tidak keluar dari hati yang ikhlas nescaya tidak menghasilkan buah bahkan mungkin akan merugikan kepada diri sendiri. Orang yang bekerja tanpa keikhlasan dia bekerja hanya untuk lahir sahaja lupa kepada tujuan dan matlamat dia bekerja sedang tiap-tiap amal tanpa ikhlas pasti tidak menghasilkan pahala di sisi Allah.
Tegasnya sidang pendengar sekelian orang yang tidak mempunyai keikhlasan hati bererti tidak yang berdiri di tempat gelap tidak mempunyai lampu cahaya untuk meneranginya, tidak mempunyai sayap untuk terbang tinggi, dia bekerja hanya untuk dorongan hawa nafsu sahaja. Cara yang demikian menjatuhkan tuannya ke lembah kebinasaan dan kehinaan. Tuhan memerintahkan kita semua beramal dan beribadat dengan keikhlasan hati. Segala pengabdian diri terhadap Allah hendaklah dilakukan seikhlas-ikhlasnya dengan penuh kebenaran, keadilan, kebijaksanaan dan kesabaran, sepertimana firman Allah s.w.t. di dalam surah Al-A�raf
Maksudnya: "Hadapkanlah muka kamu dengan lurus, tulus dan ikhlas tiap-tiap mengerjakan sembahyang dan serulah Tuhanmu sambil mengikhlaskan diri kepadaNya"
Dalam surah yang lain Allah menerangkan maksudnya: "Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk berbakti memperhambakan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan"
Sidang Pendengar Sekelian,
Dari ayat di atas kita dapat memahami bahawa Allah memerintahkan kita semua supaya mengabdikan diri kita kepadaNya dengan tulus ikhlas dengan erti kata kita kerjakan sesuatu amalan, sesuatu kerja kerana Allah bukan sekali-kali kerana sesuatu atau seseorang yang lain lebih-lebih lagi kerana sesuatu ganjaran kebendaan.
Syeikh Al Khushairi seorang pengasas Tasauf menerangkan bahawa ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah kerana ingin memperdekatkan diri kepada Allah s.w.t. bukan kerana untuk mencari kesayangan orang atau sesuatu hal yang lain selain daripada mengtakarufkan diri kepada Allah Tuhan yang menjadikan kita.
Sifat keikhlasan hati itulah yang menjadi pedoman kepada seseorang di dalam pekerjaan atau perkhidmatan. Ianya merupakan alat yang menyampaikan cita-cita yang mulia. Orang yang bekerja dengan penuh keikhlasan hatinya tentunya tidak mudah patah atau putus harapan di tengah jalan. Tidak mudah putus asa, dia tidak akan puas hati sebelum pekerjaan yang dilaksanakannya itu berhasil sepenuhnya. Mereka di dalam bekerja teguh pendirian kuat hemah dan kemahuan, dia tidak akan tersinggung hati lantaraan celaan dan kritikan orang lain. Tidak sombong kerana menerima pujian, tidak bangga kerana dinaikkan pangkat atau mendapat harta yang banyak dan kedudukan yang baik malahan orang yang bekerja dengan ikhlas tetap terus berusaha hingga tercapai yang dicita-citakan dan tidak akan memberhentikan kerja itu walaupun akan menghadapi rintangan, halangan dan menempuh pengorbanan yang besar kerana mereka mengharapkan keredaan Allah yang tidak ada batasannya.
Dalam hubungan ini Hujjatul Islam Imam Ghazali ada berkata : "Manusia semuanya mati kecuali yang masih hidup adalah orang yang berilmu tetapi umumnya orang yang berilmu itu sedang nyenyak tertidur kecuali yang jaga adalah orang yang berilmu dan beramal. Tetapi orang yang beramal itu pula sering tergoda atau terpedaya kecuali yang tidak terpedaya hanya orang yang ikhlas tetapi ingatlah bahawa ikhlas itu berada di dalam keadaan yang amat sulit ibarat telur di hujung tanduk"
Demikian caranya Imam Ghazali memberikan gambaran yang tepat terhadap sifat yang ikhlas itu dan kita harus yakin bahawa suatu amal yang dikerjakan dengan ikhlas ujudnya akan kukuh dan mestipun amal itu terpaksa juga tumbang kerana dilanda zaman tetapi kesannya tetap abadi. Oleh kerana itu sifat ikhlas di dalam beribadah amat penting dan dia merupakan senjata yang tidak luntur bagi menghadapi gangguan yang lahir dari syaitan sebagaimana firman Allah s.w.t.
Maksudnya: "Iblis berkata wahai tuhanku oleh sebab engkau telah memutuskan aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang perbuatan baik di muka bumi ini dan pasti aku akan menyesatkan mereka kecuali hamba-hambaMu yang mengerjakan amal ibadat dengan penuh keikhlasan.
Untuk dijadikan contoh mengenai ikhlas ini marilah kita meninjau satu riwayat cerita di dalam hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah bererti:
"Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda bahawasanya manusia yang pertama dipanggil untuk diadili di hari kiamat ialah orang yang mati syahid. Dia datang kepada Allah TuhanNya sambil dia sendiri telah mengetahui nekmat apa yang akan diterimanya. Allah bertanya kepadanya apakah amal kamu? "Jawabnya aku berperang untukmu hingga aku mati syahid". Allah berkata kepadanya "engkau bohong, engkau berperang agar manusia mengatakan engkau seorang gagah, berani dan engkau sudah dikatakan begitu sebagaimana yang engkau kehendaki. Kemudian orang itu dihela masuk ke neraka.
Adapun yang menuntut ilmu dan telah mengajar pula serta menjadi pembaca Al-Quran, orang ini dibawa ke pengadilan Tuhan di hari kiamat sedang dia sendiri telah mengetahui nikmat yang akan diterimanya. Dihadapan Tuhan ditanya apa amalmu jawabnya "aku banyak membaca Al Quran" Berfirman Allah kepadanya engkau bohong! Engkau menuntut ilmu itu agar dikatakan orang engkau seorang yang alim, engkau membaca Al-Quran itu supaya dikatakan orang seorang Qari dan yang demikian itu telah engkau dikatakan orang kemudian orang itu pun dihela masuk ke dalam neraka.
Adapun seorang lelaki yang telah mendapat kelapangan rezeki sebahagian hartanya dibahagikan kepada orang lain kemudian orang itu pun dibawa menghadap Allah untuk dibicarakan dan dia sendiri telah mengetahui nikmat yang akan diterimanya. Di hadapan Allah dia ditanya apa kerjamu dia menjawab "aku telah membelanjakan hartaku kepada jalan yang engaku redai dan itu telah aku kerjakan kerana engkau". Allah telah berfirman kepadanya engkau berbohong engkau berbuat demikian itu adalah supaya dikatakan orang engkau seorang pemurah sedangkan yang demikian itu telah dikatakan orang kemudian orang itu pun dihela masuk ke dalam api neraka. Demikianlah riwayat hadis tiga jenis orang beramal tidak ikhlas. Amalan mereka ditolak tidak diterima oleh Allah dan akibatnya mereka dicampakkan ke dalam api neraka.
Kesimpulan apa yang telah diperkatakan tadi ialah bahawa beramal dan beribadah perlu kepada keikhlasan dan kejujuran dan untuk menjadikan amalan itu agar kekal abadi sempurna lahir dan batin perlulah kita lakukan segala amalan dengan tulus dan ikhlas semata-mata kerana Allah Taala khususnya kita sedang berada di dalam bulan Ramadhan yang mulia, bulan untuk kita meningkatkan amal kebajikan kita jadi hendaklah segala amalan kebajikan yang kita lakukan di bulan ini dapat dilakukan dengan seikhlas-ikhlasnya supaya ianya benar-benar dapat diterima oleh Allah s.w.t. dan dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepadaNya.
Yang Terlupa Dari Keikhlasan
Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
DIMENSI KEIKHLASAN IBADAT HAJI dan IDUL QURBAN
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,
yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah"
(QS. Ali Imran, 3:97)
Ibadat Haji dan Kain Ihram
ATUSAN ribu, bahkan jutaan manusia muslim, hari-hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok duni, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya (QS. Al-Haj,22:27).
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya. Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun ststus sosial. Yang ada hanyalah pertujukan secara komunal kebrsamaan dan yang memegang peranan dalam pertunujkan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah idadah hajinya. Rasulullah s.a.w.menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Suasana klimaks selanjutnya ialah pada tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni ketika mereka mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, dan melaksanakan thawaf ifhadah dan sa’I di Masjidil Haram di Mekkah.
Pakaian dipakai saat wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah di Mina, hanyalah kain ihram, yakni dua helai kain putih yang tak berjahit yang satu helai diselendangkan di bahu sebelah kiri, dan yang satu lagi dililitkan dipinggang sebagai sarung. Kenapa pakaian yang mereka bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan. Dari perpecahan ini biasanya timbul adan lahirlah diskriminasi, dan selanjutnya munculnya konsep aku bukan lagi kita. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia.
Dalam konteks inilah, maka setiap pelaku ibadah haji ini, sewaktu melaksanakan prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor mereka, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaiankelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter mereka. Dan kini yang harus mereka pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya.
Hikmah Ibadah Qurban
SETIAP ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah-hikmah Allah sendiri tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)
Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:
"… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,
Mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS Al-Haj, 22:36)
Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang emenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).
Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.
Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)
Di samping itu semua, Hari Raya Q urbanpun merupakan Hari Rayayang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.
Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah
AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.
Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.
Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasyarakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah"
(QS. Ali Imran, 3:97)
Ibadat Haji dan Kain Ihram
ATUSAN ribu, bahkan jutaan manusia muslim, hari-hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok duni, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya (QS. Al-Haj,22:27).
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya. Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun ststus sosial. Yang ada hanyalah pertujukan secara komunal kebrsamaan dan yang memegang peranan dalam pertunujkan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah idadah hajinya. Rasulullah s.a.w.menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Suasana klimaks selanjutnya ialah pada tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni ketika mereka mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, dan melaksanakan thawaf ifhadah dan sa’I di Masjidil Haram di Mekkah.
Pakaian dipakai saat wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah di Mina, hanyalah kain ihram, yakni dua helai kain putih yang tak berjahit yang satu helai diselendangkan di bahu sebelah kiri, dan yang satu lagi dililitkan dipinggang sebagai sarung. Kenapa pakaian yang mereka bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan. Dari perpecahan ini biasanya timbul adan lahirlah diskriminasi, dan selanjutnya munculnya konsep aku bukan lagi kita. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia.
Dalam konteks inilah, maka setiap pelaku ibadah haji ini, sewaktu melaksanakan prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor mereka, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaiankelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter mereka. Dan kini yang harus mereka pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya.
Hikmah Ibadah Qurban
SETIAP ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah-hikmah Allah sendiri tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)
Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:
"… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,
Mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS Al-Haj, 22:36)
Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang emenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).
Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.
Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)
Di samping itu semua, Hari Raya Q urbanpun merupakan Hari Rayayang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.
Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah
AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.
Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.
Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasyarakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
KESEDERHANAAN DALAM BERIBADAH
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Terjemahan Hadis:
Berkata Imam Bukhari: Sa`id bin Abi Maryam bercerita kepada kami: Muhammad bin Ja`far memberitahu kami: Humayd bin Abi Humayd Tawil (yang tinggi) memberitahu kami bahawa beliau mendengar Anas bin Malik radiyallahu `anhu berkata:
“Tiga orang lelaki datang ke rumah isteri-isteri Nabi saw bertanyakan tentang ibadah Nabi saw. Apa mereka diberitahu mereka bagaikan menganggapnya sedikit. Lantaran itu mereka berkata: “Di manakah kita berbanding Nabi saw sedangkan telah diampunkan untuk baginda dosa-dosa terdahulu dan terkemudiannya”. Berkata salah seorang mereka: “Adapun saya pasti akan mengerjakan solat sepenuh waktu malam selama-lamanya”. Berkata pula yang lain: “Saya akan berpuasa setahun penuh tanpa berbuka”. Berkata lagi seorang lagi: “Saya pula akan mengasingkan diri daripada wanita-wanita dan tidak berkahwin selama-lamanya”. Baginda saw lalu datang menemui mereka lantas bertanya: “Kamukah yang berkata demikian-demikian? Adapun saya demi Allah merupakan orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah di kalangan kamu tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya solat dan tidur dan saya mengahwini wanita-wanita. Oleh itu sesiapa yang bencikan sunnahku maka dia bukan di kalanganku.”[1]
Huraian Hadis
Hadis ini memberi pengajaran penting tentang kesederhanaan dalam beribadah. Ibadah bermaksud perhambaan diri kepada Allah subhanahu wa Ta`ala. Perhambaan ini diterjemahkan menerusi kepatuhan dan ketaatan yang mutlaq terhadap segala perintah dan larangan Allah. Manusia dan Jin sememangnya dicipta untuk beribadah dan memperhambakan diri kepadaNya sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
[2]
Maksudnya: “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka beribadah memperhambakan diri kepadaKu.”
Ibadah terbahagi kepada dua:
Pertama, ibadah khusus seperti ibadah solat, puasa, zakat, haji, berzikir dan membaca al-Qur’an. Ibadah ini dilakukan oleh seorang hamba semata-mata kerana ianya merupakan perintah Allah samada perintah wajib atau sunat untuk membuktikan ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah.
Ibadah khusus ini merupakan amalan peribadi yang dilakukan oleh seorang hamba samada secara bersendiri atau melibatkan masyarakat bagi membentuk jiwa yang bersih dan perasaan yang tenang kerana hakikat ketenangan akan tercapai apabila manusia menghubungkan dirinya dengan TuhanNya. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [3]
Maksudnya: “ketahuilah dengan mengingati Allah hati menjadi tenang.”
Mengingati Allah berlaku antaranya apabila seseorang melakukan ibadah-ibadah ritual yang khusus seperti ini.
Kedua, ibadah umum. Ia melibatkan perhambaan diri manusia kepada Allah dalam perlakuan harian seseorang pada setiap detik dan saat kehidupan yang dilaluinya sejak baligh hingga ke nafas yang terakhir. Perhambaan ini diterjemahkan menerusi ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap garis panduan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dalam perlakuan hariannya.
Seorang yang berniaga barang-barang yang halal dan tidak menipu dalam aktiviti perniagaannya telah beribadah dalam perniagaannya. Begitulah juga seorang yang amanah dan jujur dalam melakukan tangungjawab pekerjaannya yang halal telah beribadah dalam pekerjaannya itu. Seorang yang berkahwin kerana ia merupakan tuntutan beragama dan mengikut lunas peraturan perkahwinan yang digariskan oleh Islam juga beribadah dalam perkahwinannya. Inilah yang dikatakan ibadah umum.
Hadis di atas menjurus kepada perbahasan tentang ibadah yang khusus seperti solat dan puasa dan juga ibadah umum seperti perkahwinan. Beberapa orang sahabat cuba berusaha memahami perjalanan ibadah dan kehidupan seharian Nabi saw. Lantaran itu mereka menemui beberapa orang isteri nabi saw bertanyakan perkara tersebut.
Malangnya apabila dimaklumkan tentang ibadah harian nabi, mereka merasakan ibadah baginda itu sedikit. Namun, bagi mereka sedikitnya ibadah Nabi itu bertepatan dengan keadaan Nabi saw yang telah diampunkan dosanya oleh Allah samada yang terdahulu atau yang terkemudian. Ia tidak wajar dibandingkan dengan diri mereka sebagai manusia biasa. Justeru, mereka perlu melipat-gandakan lagi ibadah melebihi ibadah nabi saw. Inilah pemikiran lojik mereka.
Rentetan itu mereka berazam untuk melakukan ibadah secara berlebih-lebihan. Seorangnya berhasrat untuk mengerjakan solat malam tanpa tidur. Seorang lagi pula ingin berpuasa tanpa berbuka. Yang ketiga pula tidak mahu berkahwin agar tidak terganggu ibadahnya.
Apabila keazaman mereka diketahui oleh nabi saw, baginda segera menegur tindakan mereka. Alasan baginda ialah baginda juga solat malam dan tidur. Baginda berpuasa dan berbuka. Baginda juga mengahwini perempuan. Semua perlakuan Nabi itulah adalah sunnah yang mesti diikuti oleh umatnya kerana baginda diutuskan sebagai pembimbing manusia dalam segenap lapangan kehidupan. Sesiapa yang membenci sunnah hidup yang dirintis oleh nabi saw tersebut tidak akan diiktiraf sebagai umatnya.
Sunnah Nabi ini menggambarkan kesederhanaan dalam beribadah. Sikap berlebih-lebihan dalam beribadah ditolak kerana di satu peringkat ia boleh membawa kepada kebosanan. Kebosanan itu nanti menjadi pendorong untuk amalan tersebut ditinggalkan secara total. Kebosanan ini akan berlaku kerana ia bercanggah dengan fitrah jiwa dan kemampuan fizikal manusia itu sendiri.
Untuk menepati fitrah dan kemampuan manusia dalam beribadah baginda menganjurkan sikap “berdikit tetapi tetap dan berterusan”. Ini diterangkan oleh `Aisyah apabila ditanya tentang amalan yang paling disukai oleh Nabi. Beliau menegaskan: “amalan yang berterusan.”[4]
Menurut Ibn Battal, hadis di atas mengandungi pengajaran agar mencontohi ibadah tokoh-tokoh ummat, mengkaji keadaan dan perjalanan hidup mereka sepanjang malam dan siang dan tidak wajar bertindak melampaui cara ibadah orang-orang yang telah disediakan oleh Allah sebagai contoh bagi ummat dalam beragama dan beribadah. Sesiapa yang ingin melebihi perjalanan hidup mereka maka dia adalah perosak kerana mengambil sikap pertengahan dan bersederhana dalam beribadah adalah lebih baik agar nanti tidak terasa lemah untuk melakukan sesuatu ibadah serta tidak terputus melakukannya. Ini bersandarkan hadis Nabi saw:
خير العمل ما دام عليه صاحبه وإن قل[5]
Maksudnya: “Sebaik-baik amalan ialah yang berkekalan dilakukan oleh pelakunya meskipun sedikit.”[6]
Nabi saw merupakan orang yang lebih tahu kebaikan sesuatu amalan. Justeru, dalam beribadah perlulah dicontohi orang yang lebih tahu. Apabila Nabi saw bersederhana dalam beribadah dengan mengambil kira keperluan tidur di samping solat malam, keperluan berbuka apabila berpuasa dan keperluan berkahwin di samping beribadah, maka perlakuan baginda itulah yang terbaik.
Menurut Ibn Hajar al-`Asqalani, Nabi saw menggabungkan antara dua kekuatan iaitu kekuatan ilmu dan kekuatan amalan. Ini dapat difahami apabila baginda menyatakan dalam sebuah hadis tatkala membetulkan tindakan beberapa Sahabat yang bertindak membenci sesuatu tindakan yang telah dilakukan oleh Nabi sebagai satu kelonggaran untuk orang ramai[7]:
إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً [8]
Maksudnya: “Sesungguhnya saya adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan paling takut kepada Allah berbanding mereka.”
Sikap melampau dalam beribadah lahir kerana kejahilan tentang aturcara beribadah. Justeru itu orang yang ingin beribadah perlu menggabungkan kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Kekuatan ilmu menjadi benteng agar segala amalan bertepatan dengan syariat. Kekuatan amal pula sebagai jaminan untuk meneruskan amalan secara berterusan. Amat tidak wajar sekali beribadah tanpa ilmu. Juga amat tidak wajar berilmu tanpa beramal.
Bayangkan seorang yang memasuki masjid di kala kuliah ilmu sedang disampaikan oleh seorang guru agama. Akibat kejahilan, barangkali si lelaki ini menyibukkan dirinya sebaik masuk dengan pelbagai solat sunat atau dengan membaca al-Qur’an tanpa mengendahkan majlis ilmu sehingga ianya berakhir. Sekiranya lelaki ini mempunyai ilmu tentu dia tahu bahawa sewajarnya dia mengerjakan solat tahiyyatul masjid yang ringan sebaik masuk ke masjid, seterusnya mengikuti kuliah ilmu. Menuntut ilmu di kala itu lebih utama daripada pelbagai ibadat yang dilakukannya tadi.
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Terjemahan Hadis:
Berkata Imam Bukhari: Sa`id bin Abi Maryam bercerita kepada kami: Muhammad bin Ja`far memberitahu kami: Humayd bin Abi Humayd Tawil (yang tinggi) memberitahu kami bahawa beliau mendengar Anas bin Malik radiyallahu `anhu berkata:
“Tiga orang lelaki datang ke rumah isteri-isteri Nabi saw bertanyakan tentang ibadah Nabi saw. Apa mereka diberitahu mereka bagaikan menganggapnya sedikit. Lantaran itu mereka berkata: “Di manakah kita berbanding Nabi saw sedangkan telah diampunkan untuk baginda dosa-dosa terdahulu dan terkemudiannya”. Berkata salah seorang mereka: “Adapun saya pasti akan mengerjakan solat sepenuh waktu malam selama-lamanya”. Berkata pula yang lain: “Saya akan berpuasa setahun penuh tanpa berbuka”. Berkata lagi seorang lagi: “Saya pula akan mengasingkan diri daripada wanita-wanita dan tidak berkahwin selama-lamanya”. Baginda saw lalu datang menemui mereka lantas bertanya: “Kamukah yang berkata demikian-demikian? Adapun saya demi Allah merupakan orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah di kalangan kamu tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya solat dan tidur dan saya mengahwini wanita-wanita. Oleh itu sesiapa yang bencikan sunnahku maka dia bukan di kalanganku.”[1]
Huraian Hadis
Hadis ini memberi pengajaran penting tentang kesederhanaan dalam beribadah. Ibadah bermaksud perhambaan diri kepada Allah subhanahu wa Ta`ala. Perhambaan ini diterjemahkan menerusi kepatuhan dan ketaatan yang mutlaq terhadap segala perintah dan larangan Allah. Manusia dan Jin sememangnya dicipta untuk beribadah dan memperhambakan diri kepadaNya sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
[2]
Maksudnya: “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka beribadah memperhambakan diri kepadaKu.”
Ibadah terbahagi kepada dua:
Pertama, ibadah khusus seperti ibadah solat, puasa, zakat, haji, berzikir dan membaca al-Qur’an. Ibadah ini dilakukan oleh seorang hamba semata-mata kerana ianya merupakan perintah Allah samada perintah wajib atau sunat untuk membuktikan ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah.
Ibadah khusus ini merupakan amalan peribadi yang dilakukan oleh seorang hamba samada secara bersendiri atau melibatkan masyarakat bagi membentuk jiwa yang bersih dan perasaan yang tenang kerana hakikat ketenangan akan tercapai apabila manusia menghubungkan dirinya dengan TuhanNya. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [3]
Maksudnya: “ketahuilah dengan mengingati Allah hati menjadi tenang.”
Mengingati Allah berlaku antaranya apabila seseorang melakukan ibadah-ibadah ritual yang khusus seperti ini.
Kedua, ibadah umum. Ia melibatkan perhambaan diri manusia kepada Allah dalam perlakuan harian seseorang pada setiap detik dan saat kehidupan yang dilaluinya sejak baligh hingga ke nafas yang terakhir. Perhambaan ini diterjemahkan menerusi ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap garis panduan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dalam perlakuan hariannya.
Seorang yang berniaga barang-barang yang halal dan tidak menipu dalam aktiviti perniagaannya telah beribadah dalam perniagaannya. Begitulah juga seorang yang amanah dan jujur dalam melakukan tangungjawab pekerjaannya yang halal telah beribadah dalam pekerjaannya itu. Seorang yang berkahwin kerana ia merupakan tuntutan beragama dan mengikut lunas peraturan perkahwinan yang digariskan oleh Islam juga beribadah dalam perkahwinannya. Inilah yang dikatakan ibadah umum.
Hadis di atas menjurus kepada perbahasan tentang ibadah yang khusus seperti solat dan puasa dan juga ibadah umum seperti perkahwinan. Beberapa orang sahabat cuba berusaha memahami perjalanan ibadah dan kehidupan seharian Nabi saw. Lantaran itu mereka menemui beberapa orang isteri nabi saw bertanyakan perkara tersebut.
Malangnya apabila dimaklumkan tentang ibadah harian nabi, mereka merasakan ibadah baginda itu sedikit. Namun, bagi mereka sedikitnya ibadah Nabi itu bertepatan dengan keadaan Nabi saw yang telah diampunkan dosanya oleh Allah samada yang terdahulu atau yang terkemudian. Ia tidak wajar dibandingkan dengan diri mereka sebagai manusia biasa. Justeru, mereka perlu melipat-gandakan lagi ibadah melebihi ibadah nabi saw. Inilah pemikiran lojik mereka.
Rentetan itu mereka berazam untuk melakukan ibadah secara berlebih-lebihan. Seorangnya berhasrat untuk mengerjakan solat malam tanpa tidur. Seorang lagi pula ingin berpuasa tanpa berbuka. Yang ketiga pula tidak mahu berkahwin agar tidak terganggu ibadahnya.
Apabila keazaman mereka diketahui oleh nabi saw, baginda segera menegur tindakan mereka. Alasan baginda ialah baginda juga solat malam dan tidur. Baginda berpuasa dan berbuka. Baginda juga mengahwini perempuan. Semua perlakuan Nabi itulah adalah sunnah yang mesti diikuti oleh umatnya kerana baginda diutuskan sebagai pembimbing manusia dalam segenap lapangan kehidupan. Sesiapa yang membenci sunnah hidup yang dirintis oleh nabi saw tersebut tidak akan diiktiraf sebagai umatnya.
Sunnah Nabi ini menggambarkan kesederhanaan dalam beribadah. Sikap berlebih-lebihan dalam beribadah ditolak kerana di satu peringkat ia boleh membawa kepada kebosanan. Kebosanan itu nanti menjadi pendorong untuk amalan tersebut ditinggalkan secara total. Kebosanan ini akan berlaku kerana ia bercanggah dengan fitrah jiwa dan kemampuan fizikal manusia itu sendiri.
Untuk menepati fitrah dan kemampuan manusia dalam beribadah baginda menganjurkan sikap “berdikit tetapi tetap dan berterusan”. Ini diterangkan oleh `Aisyah apabila ditanya tentang amalan yang paling disukai oleh Nabi. Beliau menegaskan: “amalan yang berterusan.”[4]
Menurut Ibn Battal, hadis di atas mengandungi pengajaran agar mencontohi ibadah tokoh-tokoh ummat, mengkaji keadaan dan perjalanan hidup mereka sepanjang malam dan siang dan tidak wajar bertindak melampaui cara ibadah orang-orang yang telah disediakan oleh Allah sebagai contoh bagi ummat dalam beragama dan beribadah. Sesiapa yang ingin melebihi perjalanan hidup mereka maka dia adalah perosak kerana mengambil sikap pertengahan dan bersederhana dalam beribadah adalah lebih baik agar nanti tidak terasa lemah untuk melakukan sesuatu ibadah serta tidak terputus melakukannya. Ini bersandarkan hadis Nabi saw:
خير العمل ما دام عليه صاحبه وإن قل[5]
Maksudnya: “Sebaik-baik amalan ialah yang berkekalan dilakukan oleh pelakunya meskipun sedikit.”[6]
Nabi saw merupakan orang yang lebih tahu kebaikan sesuatu amalan. Justeru, dalam beribadah perlulah dicontohi orang yang lebih tahu. Apabila Nabi saw bersederhana dalam beribadah dengan mengambil kira keperluan tidur di samping solat malam, keperluan berbuka apabila berpuasa dan keperluan berkahwin di samping beribadah, maka perlakuan baginda itulah yang terbaik.
Menurut Ibn Hajar al-`Asqalani, Nabi saw menggabungkan antara dua kekuatan iaitu kekuatan ilmu dan kekuatan amalan. Ini dapat difahami apabila baginda menyatakan dalam sebuah hadis tatkala membetulkan tindakan beberapa Sahabat yang bertindak membenci sesuatu tindakan yang telah dilakukan oleh Nabi sebagai satu kelonggaran untuk orang ramai[7]:
إِنِّي لَأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً [8]
Maksudnya: “Sesungguhnya saya adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan paling takut kepada Allah berbanding mereka.”
Sikap melampau dalam beribadah lahir kerana kejahilan tentang aturcara beribadah. Justeru itu orang yang ingin beribadah perlu menggabungkan kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Kekuatan ilmu menjadi benteng agar segala amalan bertepatan dengan syariat. Kekuatan amal pula sebagai jaminan untuk meneruskan amalan secara berterusan. Amat tidak wajar sekali beribadah tanpa ilmu. Juga amat tidak wajar berilmu tanpa beramal.
Bayangkan seorang yang memasuki masjid di kala kuliah ilmu sedang disampaikan oleh seorang guru agama. Akibat kejahilan, barangkali si lelaki ini menyibukkan dirinya sebaik masuk dengan pelbagai solat sunat atau dengan membaca al-Qur’an tanpa mengendahkan majlis ilmu sehingga ianya berakhir. Sekiranya lelaki ini mempunyai ilmu tentu dia tahu bahawa sewajarnya dia mengerjakan solat tahiyyatul masjid yang ringan sebaik masuk ke masjid, seterusnya mengikuti kuliah ilmu. Menuntut ilmu di kala itu lebih utama daripada pelbagai ibadat yang dilakukannya tadi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Islam Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban s...